Jumat, 25 Januari 2013

MENGENALI HAKEKAT TUJUH JEMAAT DALAM WAHYU


MENGENALI HAKEKAT TUJUH JEMAAT DALAM WAHYU

I.                   Pendahuluan
Tak dapat disangkal, Kitab Wahyu jarang dibaca dan kurang dimengerti oleh orang Kristen. Semua penafsir besar pada msa lampau merasa sulit memahaminya. Luther memandang Kitab Wahyu sebagai karya yang menyebalkan, dengan sedikit sekali keterangan tentang Kristus dan Calvin juga sangat menyangsikan nilainya. Banyak pembaca modern memiliki pandangan yang sama, dan menganggao pemberitaannya sebagai kemuduran ke jalan pemikiran Yahudi yang terburuk, yang berarti penyangkalan terhadap pemberitaan Yesus sendiri.[1] Sehingga sangat diperlukan penggalian yang dalam untuk memahami Kitab Wahyu, dan pada saat ini kita juga akan mencoba mengenali hakekat tujuh jemaat dalam Wahyu.  Semoga ini menambah pengetahuan dan pemahaman kita bersama.

II.                Pembahasan
2.1.              Kitab Wahyu
Jika kita meninjau Kitab Wahyu[2] secara seksama, jelas terlihat bahwa  penulisnya berpegang pada penekanan Kristiani yang positif tentang keterlibatan Allah dalam urusan-urusan manusia. Walaupun bahasa dan gambar-gambar yang dipergunakannya berbentuk apokaliptik, pemberitaannya mempunyai penekanan yang sifatnya khusus Kristiani.[3] Penerima kitab ini adalah ketujuh jemaat yang ada di Asia Kecil (1:4). Pada bagian selanjutnya masih ditujukan surat tersendiri kepada masing-masing; dengan demikian kita mengetahui namanya: Efesus (2:1-7), Smirna (2:8-11), Pergamus (2:12-17), Tiatira (2:18-29), Sardis (3:1-6), Filadelfia (3:7-13), Laodikia (3:14-22).[4]
Penulis kitab ini adalah disebut dengan Yohanes (1:4); adakalnya dengan keterangan seperti: hamba (1:1) dan saudara dan sekutumu (1:9). Tetapi tak ada keterangan rasul dan penatua. Waktu penulisannya diperkirakan sekitar tahun 93/95 M.[5]
Yang menarik dari kitab wahyu adalah 3 pasalnya yang pertama dengan pesan-pesan kepada tujuh jemaat di Asia Kecil. Keadaan mereka sangat dikenal oleh penulis Wahyu, dan anjurannya memang dibuatnya tepat untuk keadaan masing-masing jemaat itu. Dimana jemaat berdiri tegak, diberinya pujian (kepada Smirna dan Filadelfia). Dimana ada kekurangan, mereka ditegur, terutama jemaat di Laodikia.[6]

2.2. Makna Angka Tujuh
Angka-angka memainkan peranan besar dalam Kitab Wahyu, sebagaimana umumnya dikalangan dunia kuno, serta dibanyak tempat di dunia. Contoh, angka tiga dan empat adalah angka-angka suci bagi kebanyakan orang, dan tidaklah kebetulan bahwa diantara dewa-dewa di India, Brahma, Wisnu dan Syiwa, adalah yang paling banyak disembah, atau bahwa ajaran Buddhis dimuat dalam tiga kitab suci. Empat adalah angka suci bagi banyak orang di Afrika. Dalam Kitab Wahyu pun, angka memainkan peran yang sangat penting dan memiliki makna dari masing-masing angka tersebut. Angka tujuh adalah tiga ditambah empat, dan merupakan angka kelengkapan dan kesempurnaan. Orang menganggap ada tujuh benda langit yang utama (matahari, bilan dan kelima planet yang dikenal saat itu), tujuh hari dalam satu minggu, tujuh penghulu malaikat, tujuh roh Allah. Tujuh jemaat di Asia mewakili Gereja yang universal; pekerjaan Allah dalam Kitab Wahyu diselesaikan dalam angka-angka tujuh; dan Yohanes menggunakan pembagian tujuh pada sejumlah bagian dari kitabnya.[7]

2.3. Jemaat menurut kitab Wahyu
Beberapa pandangan yang berharga mengenai jemaat disajikan dalam kitab ini, walaupun pokok utamanya ialah kejadian pada masa yang akan datang. Kitab Wahyu yang ditujukan kepada sekelompok jemaat di Asia. Walaupun pesan yang ditujukan kepada jemaat-jemaat itu disampaikan secara terpisah-pisah dalamWahyu 2 dan 3, namun jemaat-jemaat tersebut dianggap sebagai satu tubuh. Dari ketujuh surat ini kita memperoleh beberapa pengertian mengenai Jemaat Kristen dalam daerah-daerah di Asia. Yang ditujukan secara khusus adalah sikap jemaat –jemaat  yang berbeda-beda terhadap ajaran sesat (Why. 2:2,13-15,20; 3:8-10). Kadang-kadang ada penilaian atas sikap umam yang terdapat dalam jemaat (Why.3:15). Karena itu, pokok utama dari surat-surat ini ialah kemurnian jemaat-jemaat dan penyerahan mereka kepada Kristus. Melalui menyatakan bahwa jemaat adalah Israel yang sejati.[8]
Sumbangan utama yang kita peroleh dari kitab Wahyu untuk pengertian kita mengenai Jemaat adalah tentang ibadat. Ada banyak perikop dalam bentuk liturgy yang mengambarkan bentuk ibadat pemujaan surgawi, yang dapat merupakan contoh yang baik untuk ibadat pemujaan yang dilakukan dalam jemaat. Sebetulnya, beberapa orang berpendapat bahwa perikop-perikop berbentuk liturgi ini berasal dari tata cara liturgi yang dipakai orang-orang Kristen Yahudi yang berbahasa Yunani. Hal yang tak dapat disangkal ialah, dari kitab Wahyu kita mendapat kesan bahwa penulisnya sangat menghargai ibadat pemujaan kepada Allah. Ia menceritakan tentang reaksinya yang penuh rasa hormat dan takut kepada waktu ia melihat Kristus yang dimuliakan (Why.1:17).[9]





2.4. Hakikat 7 Jemaat
Sebelum kita meninjau 7 jemaat ini, haruslah kita memerangi suatu pendapat yang salah yang mengatakan bahwa ketujuh surat itu menggambarkan tujuh masa yang berturut-turut dalam sejarah gereja, misalnya surat kepada Tiatira menggambarkan masa Reformasi, surat kepada Sardis masa kelayuan rohani dari gereja Protestan dalam abad ke-17; surat kepada Filadelfia masa Pietisme. Hal ini terlalu dicari-cari dan berhubungan dengan pendapat bahwa Kitab Wahyu harus dianggap sebagai suatu “kalender berurut untuk sejarah dunia dan sejarah gereja”.[10]
Surat kepada 7 Jemaat di Asia Kecil ini, tujuannya ialah memproklamasikan putusan yang berlaku kekal mengenai tingkah laku mereka. Di lain pihak (1:1; 4:1), dalam penglihatan-penglihatan dengan bantuan bahasa kiasan tradisional, ia bermaksud menggambarkan hukum umum sejarah, sampai dengan kesudahannya. Penghiburan bagi mereka yang menderita demi iman, dan mengajak mereka bertekun sampai kemenangan akhir. Sebab Kerajaan Allah dan Anak Domba sudah merupakan kenyataan. Hanya saja para penganutnya masih harus mencapai akhir yang pada prinsipnya sudah dapat dipastikan mereka.[11]

2.4.1.      Jemaat di Efesus
Ada beberapa hal yang baik dalam jemaat Efesus, yakni: Pertama, bahwa jemaat Efesus telah menunjukkan jerih-payah dan ketekunan dalam kehidupan Kristen. Kedua, bahwa ia tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, yaitu menjalankan siasat gerejawi terhadap anggota-anggota yang sesat. Ketiga, bahwa ia menolak pengajar-pengajar palsu. Walaupun jemaat Efesus mempunyai banyak sifat-sifat yang baik, namun kepadanya disesalkan bahwa ia telah meninggalkan kasihnya yang semula, yaitu kasih terhadap Tuhan dan terhadap anggota-anggota jemaat. Kepadanya diserukan untuk bertobat. Menurut Why. 2:5, ada dua hal yang termasuk dalam pertobatan, yakni: sungguh-sungguh menginsafi betapa dalamnya ia jatuh dan kemudian, berpaling untuk melakukan yang lebih baik. [12]


2.4.2.      Jemaat Smirna
Jemaat Smirna itu rupa-rupanya telah banyak menderita dari pihak orang Yahudi, yang menyampaikan fitnah terhadap mereka kepada pemerintahan Romawi (2:9). Jemaat Smirna dipersiapkan dengan mengatakan bahwa mereka akan mengalami lebih banyak penindasan (ay.10). Kemurnian kerohanian mereka akan diuji oleh penderitaan. Sehingga kepada jemaat Smirna diserukan supaya mereka setia sampai mati, yaitu juga dalam hal kalau mereka akan menerima kehidupan yang kekal; mahkota kehidupan (ay.10).[13]

2.4.3.      Jemaat Pergamus
Di Pergamus terdapat suatu kuil kafir termasyhur untuk Asklepios, dewa penyembuh. Kuil ini dikunjungi oleh banyak orang, yang mencari kesembuhan disana. Di tempat yang tertinggi di kota itu terdapat suatu kuil untuk Kaisar Agustus dan Dewi Roma. Selanjutnya ada didirikan di sana suatu mezbah raksasa untuk Zeus, dewa agung Yunani. Jemaat Pergamus dipuji oleh karena keteguhan iman yang mereka perlihatkan, juga di hari-hari di waktu ada gugur seorang martir: Antipas.
Tetapi ada satu hal yang disesalkan tentang jemaat-jemaat Pergamus itu: mereka meluluskan tinggal di anatara mereka orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus, yang mengikuti ajaran Bileam (orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat 14 dan 15 tidaklah merupakan dua jurusan ajaran yang berbeda-beda, melainkan satu. Adalah Bileam, yang menurut Bil.31:16 menyesatkan orang-orang Israel untuk berzinah dan menyembah berhala). [14]

2.4.4.      Jemaat Tiatira[15]
Jemaat di kota ini rupanya sangat terpecah-belah. Jemaat ini didorang untuk tetap setia. Ia mencela mereka yang mengikuti ajaran seorang nabi perempuan. Ia menyebut ia Izebeil, sesuai dengan nama istri kafir Raja Ahab, yang menyebabkan suaminya menyembah berhala Baal (Rm.16:31). Para pengikut nabi palsu ini diingatkan supaya mereka bertobat. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah yang mengetahui segalanya (Yer.17:10). Kekejaman hukuman terhadap perempuan itu dan para pengikutnya sesuai tinkat keseriusan dosa mereka, yakni tindakan mengubah karunia kenabian sejati. Namun, orang-orang dari jemaat yang tetap melawan Izebel dan murid-muridnya akan mengambil bagian, tidak hanya perayaan kemenangan tetapi juga pemerintahan Kristus atas bang-bangsa di dunia.

2.4.5.      Jemaat Sardis
Sardis adalah suatu kota yang letaknya di sebelah tenggara Efesus, dan yang termasyhur kerena masa lampaunya. Pernah kota itu menjadi tempat kedudukan Croesus, raja yang kaya-raya dari Lydia. Tetapi dalam abad pertama sesudah Kristus arti kota ini telah menjadi kecil.[16]
Surat kepada jemaat di Sardis (Why.3:1-6) mengisyaratkan bahwa persekutuan Kristen purba di sana dipengaruhi oleh semangat kota itu, menggantungkan kepada reputasi masa lampau tanpa keberhasilan masa sekarang. Dan gagal, seperti kota itu pernah dua kali gagal, kemudian belajar dari masa lalu serta menjadi waspada. Lambang “pakaian putih” sangat berarti bagi kota yang terkenal karena perdagangan pakaiannya; mereka yang tetap setia dan berjaga akan dihiasi demikian untuk mengambil bagian dalam kemenangan Tuhan.[17]

2.4.6.      Jemaat Filadelfia
Pada zaman diturunkannya Wahyu kepada Yohanes, Filadelfia adalah suatu kota kecil disebelah tenggara Sardis. Kota itu didirikan sekitar thn. 150 s.M. oleh Raja Attalus II Filadelfus. Filadelfus berarti: yang mencintai saudara-saudaranya yang laki-laki dan perempuan. Dalam surat kepada jemaat filadelfia, terdapat istilah “Yang Kudus dan Yang Benar” dalam ayat 7. Yang benar berarti: yang perkataannya dapat dipercayai.[18]
Dalam surat ini, jemaat disini tidak dikutuk, tetapi diingatkan untuk berhati-hati terhadap mereka yang mengaku orang Yahudi padahal bukan. Kita tidak tahu apakah pertentangan yang terjadi disini. Wahyu mengacu kepada beberapa nubuat mesianis untuk membuktikan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh keturunan Daud. Yes.22:22-25 tampaknya paling dekat dengan nubuat ini, karena menunjuk kepada kunci dan pintu terbuka. Karena pintunya masih tetap terbuka dihadapan jemaat ini, mereka masih mempunyai kemungkinan diselamatkan jika mereka terus bertahan. Surat bahkan menjanjikan bahwa kebenaran dari kepercayaan mereka akan diperlihatkan bila beberapa dari mereka yang mengaku Yahudi bertobat. Janji ini mengingatkan kita bahwa surat-surat dalam Wahyu tidaklah mewartakan peristiwa yang sudah dimaterai. Tidak ada kata terlambat bagi mereka untuk bertobat. Mereka yang setia harus disemangati supaya tetap bertahan.[19]

2.4.7.      Jemaat Laodikia
Kota ini letaknya disebelah tenggara Filadelfia, dekta Kolose. Laodikia didirikan kira-kira thn. 250 S.M. oleh Raja Antiokhus II dari Siria dan dinamai menurut nama isterinya, Laodike.[20]
Surat ini berisi banyak singgungan terhadap sifat dan suasana kota ini. Walaupun kaya, kota ini tidak mampu menghasilkan penyembuhan dari khasiat air panas, seperti tetangganya Hierapolis, atau kuasa menyegarkan dari air sejuk di Kolose. Hasilnya hanya air hangat-hangat kukuh yang hanya bermanfaat sebagai obat muntah. Jemaat Laodikia dinyatakan hangat-hangat kuku hingga tidak bermanfaat (artinya, perasaan cukup diri). Sama seperti kota itu, jemaat berpikir bahwa ia “tidak membutuhkan apa-apa lagi” padahal ia membutuhkan “emas”, “pakaian putih”, dan “pelumas mata” yang lebih hebat dari yang dapat disediakan oleh banker-bankir, ahli-ahli pakaian, dan dokter-dokter mereka. Seperti halnya penduduk bersikap tidak menyenangi musafir yang menawarkan kepadanya barang-barang, warga jemaat itu telah menutup pintu rumah mereka dan membiarkan Sang Pemberi tetap diluar rumah mereka.[21]

III.             Refleksi Teologis
Dengan mengenal hakikat Tujuh Jemaat dalam Kitab Wahyu ada beberapa hal yang dapat menjadi refleksi untuk saat ini, yakni:
a.       Dengan melihat bahwa dalam ketujuh jemaat pun mengalami penganiayaan yang berat, bahkan tampaknya mendapatkan perlawanan dari penguasa, kita pun dalam kehidupan berjemaat pada saat ini pun, diingatkan akan hal-hal yang mungkin terjadi, termasuk penganiayaan bagi kita dalam kehidupan berjemaat.
b.      Penulis kitab, khususnya dalam menyampaikan wahyu Tuhan kepada ketujuh jemaat, ada hal yang menjadi kepujian bagi Tuhan dan ada juga hal yang tidak menyenangkan hati Tuhan, atau ada hal yang menjadi keinginan yang diharapkan Tuhan dan yang tidak inginkan oleh Allah. Dari hal ini kita dapat belajar dan merefleksikan bagaimana kehidupan berjemaat kita saat ini. Sehingga kita dimampukan menjadi jemaat yang terus berharap akan kedatangan Kristus yang mulia dan itu juga terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari.

IV.             Kesimpulan
Dari pemaparan diatas kita dapat menarik beberapa hal yang penting dari sajian ini yakni bahwa hakikat secara keseluruhan adalah memproklamasikan putusan yang berlaku kekal mengenai tingkah laku mereka. Di lain pihak (1:1; 4:1), dalam penglihatan-penglihatan dengan bantuan bahasa kiasan tradisional, ia bermaksud menggambarkan hukum umum sejarah, sampai dengan kesudahannya. Penghiburan bagi mereka yang menderita demi iman, dan mengajak mereka bertekun sampai kemenangan akhir.

V.                Daftar Pustaka
Drane, Jhon, Memahami Perjanjian Baru (Pengantar Historis-Teologis), Jakarta: BPK-GM, 2003
Barclay, William, Pemahaman Alkitab Setiap Hari – Kitab Wahyu Kepada Yohanes (Psl. 1-5), Jakarta: BPK-GM, 2003
Duyverman, M.E., Pembimbing Ke Dalam Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-GM, 1992
Browning, W.R.F., Kamus Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 2009
H. van Daalen, David, Pedoman ke Dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK-GM, 2004
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 3, Jakarta: BPK-GM, 1993
J. de Heer, J., Tafsir Alkitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK-GM, 2008
Dister, Nico Syukur, Teologi Sistematika I, Yogyakarta: Kanisius, 2002
Bergant, Dianne, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru,Yogyakarta: Kanisius
Green, E.M.B., dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini II (M-Z), Jakarta: YKBK/OMF, 2007
Rudwick, M.J.S., dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini I (A-L), Jakarta: YKBK/OMF, 2007
Chrisnov M. Tarigan
Mahasiswa STT Abdi Sabda Medan


[1] Jhon Drane, Memahami Perjanjian Baru (Pengantar Historis-Teologis), Jakarta: BPK-GM, 2003, hlm. 502
[2] Kitab Wahyu disebut juga Kitab Apokalips, dari bahasa Yunani Apokalupsis. Di antara masa PL dan PB berkembang pesat karya tulis yang dinamakan sastra Apokaliptis. Sastra ini merupakan hasil dari pengharapan bangsa Yahudi yang tidak dapat dihancurkan. Ada beberapa kitab-kitab Apokalips Yahudi, yaitu Kitab Henokh (Enoch), Kitab-kitab Sebyllim/ Sibil (The Sibylline Oracles), Testamentum Dua Belas Patriarkh/ Bapa Leluhur (The Testaments of the Twelve Patriarchs), Kenaikan Yesaya ke Sorga, Kenaikan Musa ke Sorga, Apokalips Barukh, dan 4 Ezra. Sedangkan kitab Wahyu yang kita kenal sekarang adalah kitab Apokalips Kristen dan satu-satunya di dalam PB. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari – Kitab Wahyu Kepada Yohanes (Psl. 1-5), Jakarta: BPK-GM, 2003, hlm. 3-6
[3]Jhon Drane ,Op.cit., hlm. 503
[4] M.E. Duyverman, Pembimbing Ke Dalam Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-GM, 1992, hlm. 212
[5] Ibid, hlm. 215-218
[6] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 2009, hlm. 476
[7] David H. van Daalen, Pedoman ke Dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 92-93
[8] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3, Jakarta: BPK-GM, 1993, hlm. 120
[9] Ibid, hlm. 121
[10] J.J. de Heer, Tafsir Alkitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK-GM, 2008, hlm. 36
[11] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika I, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 38
[12] J.J. de Heer, Op.cit., hlm. 37-38
[13] Ibid, hlm.39-40
[14] Ibid, hlm.40-42
[15] Dianne Bergant, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru,Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 487-488
[16] J.J. de Heer, Op.cit., hlm.49
[17] E.M.B. Green, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini II (M-Z), Jakarta: YKBK/OMF, 2007, hlm. 359
[18]  J.J. de Heer, Op.cit., hlm. 53
[19] Dianne Bergant, Op.cit., hlm. 488
[20] J.J. de Heer, Op.cit., hlm. 58
[21] M.J.S. Rudwick, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini I (A-L), Jakarta: YKBK/OMF, 2007, hlm. 633

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bijaksanalah memberikan pendapat, setiap pendapat harus dibangun atas dasar yang jelas