Minggu, 09 Desember 2012

KEKUDUSAN “Tinjauan Dogmatis Terhadap Arti dan Makna Kekudusan Dan Relevansinya Terhadap Pemahaman Jemaat di Masa Kini”



KEKUDUSAN
“Tinjauan Dogmatis Terhadap Arti dan Makna Kekudusan Dan Relevansinya Terhadap Pemahaman Jemaat di Masa Kini

       I.            I. Latar Belakang Masalah
Didalam kehidupan umat Kristen, kata “Kudus” bukanlah merupakan kata yang asing. Bila kita tanyakan kepada masing-masing umat Kristen, jawabannya pasti akan berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa hidup kudus adalah mempersiapkan hati dan pikiran untuk melayani dan memuji Tuhan, dan juga harus diperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dilain orang mengatakan bahwa hidup kudus adalah hidup yang jauh dari dosa, dimana perbuatan-perbuatan kita haruslah bukan tindakan berdosa. Pendapat terakhir mengatakan bahwa hidup kudus adalah hidup tanpa kecemaran, jauh dari perbuatan-perbuatan berdosa termasuk pelaku-pelakunya, supaya kita juga tidak terjatuh kedalam keberdosaan, sehingga hidup kita yang kudus tetap terjaga. Disini yang menjadi masalah, apakah hidup kudus harus menjauhi orang-orang berdosa? Dan seperti apa sebenarnya hidup kudus?.
Bila kita melihat pendapat-pendapat yang berbeda diatas, sulit bagi kita akan menerima pendapat yang mana yang benar menurut ajaran atau teologia Kristen. Sehingga diperlukan adanya kajian akan hal diatas, sehingga kita dapat mengetahui kebenaran yang sebenarnya melalui karya tulis ilmiah ini.

    II.            II. Pembahasan
2.1.      Arti dan Makna Kudus Menurut Perjanjian Lama
Kekudusan dalam istilah Ibrani disebut qadosi yang artinya terpisah (dikhususkan), terpotong dari, dilepaskan seseorang atau benda, dan dikhususkan bagi Tuhan supaya Tuhan dapat memakainya.[1] Kadang-kadang qadosi dan qodesi diartikan dengan suci, kalaupun perbedaan antara kudus dan suci tidaklah gamblang, karena kudus mengacu kepada kualitas hakiki Tuhan dan manusia sedangkan suci mengacu kepada setiap yang menjurus kepada kekudusan.[2]
Pengertian kudus yang berarti dipisahkan mencakup dua hal yakni, dipisahkan dari hal-hal duniawi yang bertentangan dengan kehendak Allah, dan dikhususkan menjadi milik sang pembebas yaitu Allah (Im. 20:29).[3] Kudus (qados), sejak semula diarahkan untuk bidang keagamaan, misalnya: sebidang tanah, sebuah bangunan, peralatan dalam tempat ibadah, bahkan seekor kuda juga dapat dianggap kudus sejauh itu semua dikhususkan untuk maksud keagamaan dan peribadatan.[4] Namun perasaan mengenai kuasa mengagumkan yang terdapat dalam benda-benda kudus ini tidak boleh disamakan dengan nilai-nilai moral dan etis. Kudus atau kekudusan merupakan suatu sifat orang atau sesuatu yang sepenuhnya sesuai dengan tujuan atau maksut keberadaannya yang bulat dan utuh. Sebenarnya hanya Allah yang kudus, Ia adalah misteri yang menggetarkan dan menakjubkan. Ia sama sekali berbeda dengan manusia karena maha kudus (Yes 6:3,5) sekaligus merupakan sumber kesempurnaan rohani dan moral. Dalam perjanjian Lama yang termasuk ke dalam hukum kesucian (Imamat 17-26) sehingga ini menjadi pegangan sekaligus menjadi ajakan bagi orang-orang Israel untuk menjadi Kudus, karena Allah mereka adalah Allah yang kudus (Im 19:2, 20:26). Selain benda, tempat upacara, kitab suci, hukum dan perjanjian juga dapat disebut kudus sejauh dikuduskan dan disucikan bagi Allah.[5]
Tempat ibadah dikuduskan karena dianggap suci dan keramat. Alat-alat disana juga disebut kudus, misalnya: piring, mangkuk, bejana, meja, dan itu semua dianggap kudus dalam Perjanjian Lama karena itu berhubungan dengan ritual menyembah Tuhan. Bagi bangsa Mesopotamia kata kudus dipakai untuk julukan dewa (allah kesuburan) dan itu sangat penting dalam kehidupan Mesopotamia.[6] Bagian tubuh juga disebut kudus, yakni: tangan yang kudus, hati yang kudus. Bagian tubuh Allah dianggap kudus karena berbeda dan tubuh makhluk hidup dan memiliki rasa kehormatan. Imam juga disebut kudus karena ia mengambil bagian dalam bidang ke-Tuhanan. Imam juga disebut kudus karena mereka bernyanyi dengan keramat, suci dan kudus, ditempat yang kudus.[7]
Penjelasan lain mengatakan bahwa akar kata קדש qados kemungkinan tidak berasal dari Ibrani tetapi dari tradisi Kanaan yang kemudian diambil alih oleh agama-agama sekitar. Sedangkan dalam bahasa Ibrani asli, kata yang dekat dengan kudus yaitu kata חרם (haram) artinya “dari apa yang dilarang”. [8]
Ada beberapa istilah Kekudusan Dalam Perjanjian Lama, yakni:
a). Kudus atau kekudusan dalam bentuk kata sifat yaitu קָדַשּ atau קֹדֶש
Artinya suatu peralihan kepada fakta-fakta keagungan atau kekudusan. Kudus mengandung arti tentang lingkaran suci/keramat, terang dan terpisah dari hal yang kotor.[9] Qodes merupakan suatu kualitas yang digunakan untuk Tuhan atau memuji Tuhan, contoh: hari yang kudus yaitu sabat (Yes. 53:13), kata ini terdapat 469 kali dalam PL. Qados menyangkut tentang pribadi yang kudus, pikiran, tempat, atau waktu yang diabdikan untuk Tuhan dan terdapat sebanyak 127 kali dalam PL.[10] Qados ini juga mengacu kepada pribadi Tuhan (Kel. 15:11) baik roh-Nya, nama-Nya, perbuatan-Nya (Yes. 52:10), jalan-Nya (Mzm. 77:1), juga mengacu kepada manusia, imam (Im. 21:6), objek persembahan (Kel. 29:33) dan persembahan (Kel. 28:38).[11]
Seperti, Gelar hanya Israel yang kudus, ini menggambarkan supremasi Allah yang melebihi kesetiaan dan juga kesempurnaan moral (Yes. 30:12). Hanya “Israel yang kudus” ini merupakan kepercayaan masyarakat terhadap perjuangan Israel ketika Allah memberikan peradilan dalam peperangan umatNya karena hanya Allah yang kudus. Orang yang penuh dosa, kesalahan, memandang rendah terhadap Israel yang kudus (Yes. 1:4, 30:5), oleh karena itu Dia menegur ciptaanNya Israel yang kudus itu dan menebus Israel keluar dari tanah perbudakan.[12]
            b). Kudus atau kekudusan dalam bentuk kata kerja yaitu קִדַּש (menguduskan)
Dalam hal ini Allah yang menjadi subjeknya dan terdapat sebanyak 12 kali dalam PL dimana Allah menunjukkan kekudusan diri-Nya di dalam Israel dan dalam dunia orang kafir (diluar Israel). Allah menunjukkan kekudusan-Nya sebagai hakim (Im. 10:3; Bil. 20:13) dan memperlihatkan janji-Nya (Yes.5:6), serta memindahkan status umat dengan membersihkan mereka dari hal-hal yang kotor. Allah membuat mereka berkembang ke seluruh dunia, dan Dia akan menunjukkan diri-Nya kepada mereka, kepada semua suku bangsa bahwa hanya Dia yang kudus, sehingga bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Dia adalah Allah.[13]
Bangsa-bangsa akan mengetahui Tuhan itu adalah Allah yang kudus. Untuk membawa perseorangan kepada tempat yang kudus, subjeknya mungkin Allah atau manusia. Allah Israel adalah kudus (Kel. 31:13), Ia memulihkan Israel menjadi kudus (Ezek. 20:12 ), mengkuduskan namaNya yang sudah kotor di tengah bangsa-bangsa (Ezek. 36:23). Dalam Kej. 2:3 dikatakan bahwa sabat adalah kudus, Musa (Kel. 19:10), Jos. 7:13, Ay. 1:5, dan 1 Sam. 16:5, menguduskan suatu bangsa atau individu. Salomo juga menguduskan pertengahan pelataran yang di depan rumah Tuhan (1 Rj. 8:64).[14]
Harun dan anak-anaknya diminta dalam proses menguduskan, yang mana mereka membawakan pakaian yang kudus, memberi perminyakan yang kudus, menobatkan dan memakan persembahan (Kel. 28:3, 41, 29:1, 33, 30:30). Manusia juga bisa menjadi subjek dalam proses menguduskan diri yang disebut dengan istilah hitqaddesy (הִתקּש) yang artinya menguduskan diri (Kel. 19:22), terdapat24 x dalam PL, Ini memasuki kepada suatu tempat kudus yang sudah melewati kesalehan. Perlindungan seseorang terhadap dirinya, ketika dia sudah mengeluarkan hidupnya dari komunitas yang tidak bersih atau ketika dia datang untuk bersekutu dengan Allah. Betseba membersihkan dirinya dari yang tidak bersih sebelum Daud tidur dengannya (2 Sam. 11:4). Imam sudah melindungi diri mereka ketika mereka mendekati Allah untuk melekukan tugas peribadatan (Kel. 19:22, 1 Kro. 15:12).
Kata kerja kudus ini merupakan pengabdian, bukan dengan implikasi ibadah sementara, tapi memindahkan kepada posisi kesalehan, yang mana pengabdian seseorang bukan untuk yang bersifat exklusive. Fokus dari proses pengabdian ini merupakan perbuatan untuk menghormati kekudusan Allah (Bil 20:12) yang dipisahkan untuk maksud keTuhanan.[15]

2.2. Arti dan Makna Kekudusan Menurut Perjanjian Baru
Dalam pengertian yang sama dengan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (hagios) diartikan dengan memisahkan dan menjadikan milik Allah. Istilah ini juga menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya yang kudus (Hos. 11:9, Yoh. 17:11). Namanya harus dikuduskan dalam arti Allah itu harus diakui sebagai Allah semua manusia (Yes. 6:3; Mat. 6:9). Selain itu istilah hagios ini adalah juga menunjukkan sikap kesetiaan manusia terhadap Allah atau keserasian dunia ciptaan dengan hukum ilahi.[16]
Ada beberapa Istilah kudus dalam Perjanjian Baru, yakni:
a. άγίός yang artinya kudus, yang ditahbiskan (kemah suci), bait suci, ruang suci atau ruang maha suci.[17]άγίός mempunyai konsep yang sama dengan qados, dan merupakan konsep kultus .Hal ini diindikasikan dengan kesucian / kesetiaan dan kekuatan untuk pendekatan kepada Ilahi. Hagios tidak digunakan untuk relasi manusia dalam hubungan kultus, tapi sejumlah besar peristiwa hagios digunakan pada pribadi dan sangat penting dalam hubungan dengan Tuhan (Yoh. 17:11, 1 Pet. 1:15).[18] Hagios mempunyai dasar pemikiran yang sama mengenai keterpisahan dan kesucian terhadap Allah. Kata maha kudus dalam Kis. 2:27 dan kata kudus dalam Why. 15:4 adalah terjemahan dari kata Yunani hagios (di tempat lain diterjemahkan suci / saleh), yaitu hubungan yang benar dengan Allah, mungkin juga dalam pengertian kekasih.[19]
b. άγίαςω yang artinya menguduskan, mengasingkan, septuaginta menterjemahkan dengan upacara pendamaian / penebusan (Kel. 29:33, 36). Pengudusan dapat dicapai dengan praktek kultus (Kel. 19:20, Ul. 5:12), dengan satu subjek dan objek Ilahi. Hal ini juga dapat dianggap menyangkut penyataan (Kej. 2:3, Kel 19:23).[20] Subjeknya adalah pribadi, apakah Allah, hakim, bangsa atau umat, tapim Allah jarang sebagai objek. Objek tersebut kebanyakan Imam, bangsa, tempat kudus serta bejana yang kudus. Melalui pengudusan mereka dipisahkan dari sifat duniawi dan najis.
c. άγίασνος yang artinya pengudusan (menguduskan). Menguduskan disini lebih baik dari peristiwa pengudusan, karena tindakan menguduskan hanya dapat dilakukan oleh seorang yang kudus. Tindakan menguduskan diri itu selalu dikerjakan atas dasar status pengudusan yang dicapai dalam pendamaian (band Why. 22:11).[21]
d. άγίοσυνη yaitu suatu keadaan kudus, sifat pengudusan / kekudusan yang lebih dari pada tindakan menguduskan dan merupakan suatu kualitas yang lebih dari pada suatu status. Dalam Perjanjian Baru hanya Paulus yang memakai kata tersebut (Im. 1:4, 14, 2 Kor. 7:11, 1 Tes. 3:13).
e. άγίοτης artinya sifat yang kudus, pengudusan, hanya terdapat dalam Ibr. 12:10.[22]
f.  άγίοί artinya sifat yang kudus. Kata ini juga dipakai sebagai petunjuk rasuli bagi orang-orang kudus. Arti utamanya adalah hubungan dengan pribadi, menggambarkan sifat, terutama sifat seperti Kristus. Dimana-mana dalam PB ditekankan arti kekudusan secara etis, bertentangan dengan hal-hal yang kotor. Kekudusan juga merupakan panggilan tertinggi bagi orang Kristen dan tujuan dari pada hidupnya.

2.3. Kekudusan Allah
Kudus menggambarkan transendensi Allah. Yahweh, kerena kekudusan-Nya berdiri bertentangan dengan ilah-ilah (Kel. 15:11) demikian juga dengan seluruh ciptaan (Yes. 40:25). Istilah kekudusan juga menunjuk kepada hubungan, dan mengandung arti ketentuan Allah untuk memelihara kedudukan-Nya sendiri terhadap makhluk-mahkluk bebas lainnya. Itu adalah pengesahan Allah sendiri, ‘sifat dalam nama Yahweh menjadikan diri-Nya sendiri ukuran mutlak bagi diri-Nya sendiri’.[23] Sifat Allah yang paling khas dalam PL adalah kekudusan-Nya. Walaupun bangsa-bangsa, benda-benda, dan tempat-tempat disebut kudus, tetapi ini hanyalah dalam arti “dikhususkan bagi Allah”; sebenarnya hanya Allahlah yang kudus. Kekudusan itu berarti bahwa Dia betul-betul murni dalam sikap dan pikiran. [24]
Ketika makna kudus ini dikaitkan dengan “pemisahan”, maka bila konsep ini dipakai tentang Allah sendiri, ada dua hal dampaknya: Pertama, Allah terlepas dari oknum-oknum lain; hanyalah Dialah Allah. Dalam pengertian ini, kekudusan Allah mirip dengan kemuliaan-Nya. Hal ini diungkapkan dalam penglihatan Yesaya: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya” (Yes. 6:3). Kedua, yang dimaksud dengan kekudusan Allah dalam pengertian etis adalah pemisahan diri-Nya dari segala sesuatu yang menentang dan melawan Dia[25]. Inilah dasar semua perbedaan moral. Yang baik adalah yang dikehendaki Allah; yang jahat adalah yang menentang dan melawan kehendak-Nya.[26] Allah yang kudus senang kepada kabaikan dan kebenaran serta membenci yang segala yang jahat. Benda-benda dan tempat dikatakan kudus bukan karena tempat tersebut menakutkan tetapi karena Allah sendiri hadir dalam tempat terebut dan kehadiran Allah berhubungan dengan tempat tersebut. [27]

2.4. Kekudusan Allah Dalam Hubungan Dengan Umat-Nya (Manusia)
Kekudusan Allah sangat berhubungan dengan umat yang dipilihNya. Pemilihan/ perjanjian adalah ungkapan unik tentang kekudusan Allah. Karena Allah kudus maka Allah juga menuntut umat-Nya untuk hidup kudus (Im. 11:44).[28]Allah menunjukkan kekudusanNya dalam tindakan-tindakanNya demi keselamatan umat yang sudah dipilihNya (Bil. 20:13). Dengan alasan ini maka Allah disebut sebagai yang kudus Israel, karena Israel dikuduskan bagi Allah. Allah yang kudus bagi Israel terdapat 30 x dalam kitab Yesaya, Maz. 71:22, Yer. 50:29, dsb. Allah yang kudus merupakan pernyataan dalam sejarah Israel untuk menebus perbuatan-perbuatan dari AnugrahNya dan menembus kekerasan pengadilanNya.[29]
Dalam Amos 4:2 di sana dikatakan “Tuhan Allah bersumpah demi kekudusan-Nya” itu berarti Allah mengangkat sumpah yang paling berat yakni bersumpah demi hakekat-Nya sendiri.[30] Kata benda dari kudus juga mengacu kepada Roh Allah dan RohNya juga mengacu kepada umatNya selama keluaran. Allah membentuk Israel melalui duka cita mereka ketika mereka memberontak Allah yang kudus, yang datang dengan segala kesempurnaan dan melebihi dari segalanya. Kekudusan bukan melekat pada ciptaan, tapi datang dari inisiatif Allah sendiri. Waktu dunia dikuduskan dalam pengertian terang dipisahkan dari gelap. Allah yang kudus terbebas dari moral yang tidak sempurna dan kelemahan manusia. Allah yang kudus pada hakekatnya memanggil umat-Nya juga untuk menjadi kudus. Allah tidak hanya melambangkan ketuhanan, tapi Allah itu terbebas dari dosa.[31]
Para nabi memproklamirkan kekudusan sebagai penyataan sendiri oleh Allah, kesaksian yang Ia terapkan pada diri-Nya sendiri dan segi yang Ia kehendaki supaya makhluk ciptaan-Nya mengenal Dia demikian. Para nabi menyatakan bahwa Allah menghendaki untuk mengkomunikasikan kekudusan-Nya kepada makhluk ciptaan-Nya dan sebaliknya Ia menuntut kesucian dari mereka. Seperti bangsa Israel, dengan hubungannya dengan Allah, menjadikan Israel satu bangsa yang kudus, dan dalam pengertian ini mengacu kepada pengungkapan tertinggi hubungan perjanjian Israel dengan Allah. Dengan pengungkapan kekudusan yang diberikan Allah, menyatakan supaya mereka dapat menjadi orang yang mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.[32] Demikianlah kekudusan Allah menunjukkan kelainan Allah daripada manusia. Akan tetapi pengertian kudus ini tidak pernah dipisahkan daripada hubungan Allah dengan umat-Nya. Justru di dalam hubungan Allah dengan umat-Nya itulah Allah tampak sebagai Yang Kudus, yang tidak dapat bersekutu dengan dosa.[33]
Tentu saja keyakinan bahwa Allah adalah kudus merupakan unsur penting. Yesus pernah menyebut Allah sebagai Bapa yang kudus (Yoh. 17:11). Pada waktu Yesus dihadapkan dengan siksaan dan penderitaan-Nya, Yesus sangan menyadari kemutlakan kekudusan Bapa-Nya yang telah mengutus-Nya. Sehinggan melalui kekudusan Allah ini, Allah mengutus umat-Nya untuk dapat menjadi umat-Nya kudus di dunia yang penuh dengan kecemaran ini.[34] Allah bertentangan dengan dosa, namun Ia juga mengasihi manusia berdosa. Kekudusan Allah juga mengasihi umat manusia sekalipun manusia itu adalah berdosa. Melalui pengudusannya, Allah juga mengutus kepada manusia yang berdosa lainnya.[35]

2.4.1. Kekudusan Allah dan Bangsa Israel
Allah yang kudus memilih bangsa Israel sehingga Ia mengkhususkan bangsa tersebut dari yang lain. Bukan karena bangsa lain kurang kudus, atau tidak kudus, melainkan agar Israel mengembangkan, menjaga dan menampilkan kekudusan-Nya secara khusus. Israel sendiri dengan demikian juga terus-menerus dikuduskan dalam hubungan istimewa tersebut.[36] Dalam kitab Yesaya, Allah sering disebutkan “Yang Mahakudus, Allah Israel” (5:19; 30:12; 43:3; 55:5) yang menghendaki agar Israel mengubah sikapnya dan mengikuti tabiat Allah yang diam di tengah-tengah mereka (12:6).[37] Tidak mengherankan juga kalau kitab Imamat mempunyai tema, “Sebagai umat perjanjian, Israel harus hidup sebagai bangsa yang kudus, karena Allah adalah kudus”.[38] Karena itu, umat Israel menjadi kudus dan mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Dan itulah yang harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Kekudusan Allah harus tercermin dalam tata hidup umat-Nya, baik dalam kehidupan para imam, pemimpin umat, maupun dalam kehidupan umat pada umumnya.[39]

2.4.2. Kekudusan “Dipisahkan Untuk Allah”
Dipisahkan untuk Allah mensyaratkan adanya pemisahan diri dari kecemaran. Pada umumnya, dipisahkan untuk Allah mengandung gagasan positif dipersembahkan atau dikhususkan untuk Allah. Dengan pengertian semacam ini, kemah sembahyang dan bait suci dikuduskan dengan semua perabotan yang ada didalamnya (Kel. 40:10, 11: Bil. 7:1; II Taw. 7:16). Seseorang dapat menyucikan rumahnya atau sebagian dari ladangnya (Im. 27:14-16). Allah menguduskan semua anak sulung  bangsa Israel untuk diri-Nya sendiri (Kel. 13:2; Bil. 3:13). Bapa menguduskan Anak (Yoh. 10:36) dan Anak  menguduskan diri-Nya sendiri (Yoh. 17:19). Orang-orang Kristen dikuduskan ketika mereka bertobat (1 Kor. 1:2; 1 Petrus 1:2; Ibr. 10:14). Yeremia dikuduskan sebelum ia lahir (Yer. 1:5), dan Paulus berbicara soal dirinya yang sudah dipisahkan untuk Allah ketika masih dalam kandungan ibunya (Gal. 1:15).[40]
Kekudusan Allah menuntut kekudusan umat-Nya, artinya: umat Allah, yang adalah sekutu Allah, juga harus hidup terpisah daripada segala dosa, dan mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Allah (Im. 19:2; 1 Ptr. 1:16). Tanpa hidup yang kudus, tidak mungkin ada persekutuan dengan Allah yang kudus.[41]

2.4.3. Kekudusan “Dikhususkan Untuk Allah”
Dikhususkan untuk Allah dapat dipahami dengan umat Israel, yang telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir, dikhususkan menjadi milik Sang Pembebas, yaitu Allah (Im. 20:29). Mereka harus hidup sesuai dengan kebiasaan baru yang terikat pada kehendak Allah yang kudus itu (Im. 19:2). Sanksi dari Allah adalah antara “patuh” dan “tidak patuh”. Patuh berarti memperoleh berkat, damai sejahtera, dan kemakmuran (Im. 26:1-13). Tidak patuh berakibat fatal, malapetaka, penyakit (Im. 26:14-15).[42]

2.4.4. Hukum Kekudusan
Imamat 17-26, bisa dikatakan sebagai Hukum Kekudusan. Bagian ini merupakan kumpulan prinsip-prinsip hidup untuk umat Allah yang dipanggil menjadi kudus.[43] Peraturan dan hukum yang tercantum didalamnya menyangkut seluruh umat. Melalui ini Allah menetapkan diri-Nya menjadi Allah Israel dan mengangkat Israel menjadi umat-Nya. Israel yang sudah diangkat menjadi umat Allah dan kini Allah menunjukkan kepada mereka tata hidup sebagai umat Allah. Bila tata hidup ini dijalankan, mereka dapat hidup sebagai umat Allah dengan sungguh-sungguh.[44] Untuk dapat dikatakan “kudus”, maka karakter dan perilaku manusia (khususnya karakter dan perilaku Israel dalam konteks ini) harus mencerminkan karakter dan perilaku Allah sendiri. Dia adalah standar kekudusan yang berlaku bagi semua, pada saat bersamaa Dia menjadi penyebab dan pendorong manusia untuk mengejar kekudusan. Allah kudus karena Dia unik dan tak ada bandingannya. Orang-orang harus memahami kekudusan mereka semata-mata bukan sebagai raja dari “kerohanian”, melainkan karena keunikan dan kekhususan mereka sebagai orang pilihan yang dipanggil oleh Allah. Tetapi, kekudusan juga harus terwujud dalam kehidupan dengan mengikuti prinsip-prinsip etika serta praktiknya yang memperlihatkan kesalehan.[45]
Panggilan untuk hidup kudus menyangkut atau mensyaratkan peraturan-peraturan tentang kekudusan darah (Im. 17); larangan kawin dengan orang yang memiliki hubungan darah (18:1-18) dan penyimpangan-penyimpangan seks lainnya (18:19-23), melakukan Sepuluh Perintah (19:1-18) dan hukum-hukum yang berkaitan (19:19-20:27); dan kepatutan perilaku para imam dalam kehidupan pribadi maupun ditengah masyarakat (Im. 21-22). Bangsa Israel, sebagai bangsa yang kudus, juga harus memahami bahwa kekudusan menuntut ketaatan ketat kepada hari-hari raya dan waktu-waktu yang telah ditetapkan untuk menghadap Tuhan. Ini termasuk hari Sabat (Im. 23:3), Hari Raya Paskah dan Hari Raya Roti Tak Beragi (23:4-8), Hari Raya Buah Sulung/ Bungaran (23:9-14), Hari Raya Tujuh Minggu (23:15-22), Hari Raya Serunai (23:23-44), Tahun Sabat (25:1-7), dan Tahun Yobel (25:8-55). Tujuan dari peristiwa-peristiwa ini banyak, tetapi dalam kerangka kerja kekudusan hal tersebut untuk mengingatkan umat Allah bahwa bukan hanya orang, tempat atau perbuatan yang dianggap kudus, melainkan waktu juga. Melalui waktu ini, bangsa Israel merenungkan arti kehidupan dan tugas kudus sesuai dengan panggilan mereka; Dialah yang memanggil umat-Nya sekali lagi untuk menjadi hamba-Nya di bumi.[46]

2.4.5. Kekudusan dan Umat Kristen
Semua orang Kristen harus menyakini bahwa sesungguhnya semua orang beriman, tanpa kecuali dipanggil untuk hidup kudus kepada kesempurnaan kasih. Panggilan untuk hidup kudus berlaku bagi semua orang percaya yang didasarkan pada karya pengorbanan Kristus.[47] Orang Kristen adalah orang-orang yang telah dipanggil Allah untuk hidup kudus. Semuanya tanpa kecuali, tanpa pembedaan antara kelompok, golongan atau hal-hal tertentu. Panggilan-Nya kepada kita itu adalah inisiatif-Nya, sehingga bukan karena perbuatan kita, bukan karena mematuhi hukum-hukum (Taurat) secara harafiah. Bahkan Yesus mengecam pandangan Yahudi yang mengatakan bahwa kepatuhan kepada hukum Taurat merupakan dasar kekudusan (Yoh.3:16; Rom. 5:18-19; 8:18-23; Ef. 1:3-6,9,10; 1 Tim. 3:1-13; Tit. 1:15-16; 1 Pet. 1:15-16).[48]
Setiap orang Kristen telah dipanggil sekaligus bertanggung-jawab untuk hidup kudus, hidup menurut Firman, menjadikan Firman itu hidup dalam kehidupannya sehari-hari. Namun kekudusan itu jangan dianggap sebagai jaminan memperoleh hidup kekal dan terlebih membawa kesombongan rohani. Tetapi orang Kristen bertanggung-jawab melaksanakan hidup kudus sebagai respon atas panggilan keselamatan dan kasih Tuhan yang telah kita terima dalam hidup kita. Hidup kudus berarti menjadi teladan Allah yaitu mencermin kekudusan-Nya.[49]
Kekudusan umat Allah bukan hanya sekedar hubungan antara umat dan Allah-Nya tetapi hubungan antara manusia dengan manusia yang lain juga harus dijaga kekudusannya, seperti menghormati orang tua dan juga menjaga kekudusan dalam perkawinan dan seksualitas. Tubuh kita  yang telah dipenuhi oleh hadirat Allah untuk memberi contoh kepada kita secara rohani, bahwa kita tidak boleh memberikan kecemaran dan kenajisan berdiam di dalam tubuh kita. Alkitab dengan jelas dan sederhana mengajarakan bahwa tubuh kita adalah Bait Allah (1 Kor. 3:16) yang di dalamnya Tuhan Yesus berdiam.[50]
Ada beberapa alasan yang sederhana untuk orang Kristen hidup  di dalam kekudusan, yakni[51]:
1.      Karena kita dipanggil untuk menjadi kudus
Dalam 1 Tes. 4:7 dikatakan Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Manusia bukan hanya dipanggil tetapi juga dipilih, dikhususkan, disucikan, dan dipisahkan untuk menjadi suatu umat yang kudus bagi Allah (Kel. 19:6, Im. 20:26, 1 Pet. 2:9).
2.      Kita adalah Bait Allah
Bait Allah merupakan suatu tempat yang kudus dan hadirat Allah akan hadir di dalamnya, untuk itulah seharusnya kita memelihara tubuh kita yang merupakan bait Allah yang hidup, agar selalu suci dan bersih dari segala kenajisan dan kecemaran.
3.      Kita adalah anak-anakNya
Dalam Mat. 5:48 dikatakan “karena itu haruslah kamu sempurna”. Alkitab mengatakan sebagai Anak Allah, kita duduk bersama-sama dengan Tuhan Yesus di surge, disebelah kanan Allah (Mrk. 16:19). Kekudusan menunjukkan kita sebagai Anak Allah.
4.      Kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya
Dalam 1 Kor. 12:27 “kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggota-Nya” untuk itu sebagai anggota tubuh Kristus kita harus hidup sesuai dengan kehendak Kristus. Dalam 1 Tes. 4:7 dikatakan Allah memanggil kita bukan untuk melakukan yang cemar, melainkan apa yang kudus. Manusia bukan hanya dipanggil tetapi juga dipilih, dikhususkan, disucikan, dan dipisahkan untuk menjadi suatu umat yang kudus bagi Allah (Kel. 19:6, Im. 20:26, 1 Pet. 2:9).

2.5. Kekudusan Dalam Sejarah Gereja
Pada abad kedua, dimana gereja semakin berkembang, muncul permasalahan-permasalahan yang dipandang oleh beberapa golongan dimana merosotnya jemaat dibeberapa sisi terkhusus pada kehidupan. Munculnya golongan Montanisme yang hendak mengembalikan kemurnian asli dari jemaat Tuhan dengan menyucikan tiap-tiap orang, yang hidupnya tidak suci dan saleh. Karena gereja berkembang pesat, sehingga mulai kurang dalam hal penekanan hidup kudus. Golongan Montanisme ini, menginginkan bahwa gereja sebagai persekutuan orang kudus harus jauh dari perbuatan-perbuatan yang tidak kudus, seperti percabulan, pembunuhan dan murtad sehingga orang-orang yang melakukan itu harus disingkirkan dari gereja. Namun pada tahun 217 oleh Uskup Roma Calixtus, memaklumkan bahwa dosa besar dapat diampuni, tetapi pelaku tetap dikenakan hukuman berat. Calixtus memahami bahwa gereja bukanlah jemaat yang kudus, melainkan suatu ladang dimana gandum dan lalang tumbuh bersama-sama, atau suatu bahtera Nuh, yang memuat binatang halal dan haram. Dengan demikian maka pintu gereja terbuka luas menyambut banyak orang yang lemah dan berdosa, supaya jangan binasa, melainkan selamat. Menurut Calixtus juga: gereja tidak hanya merupakan persekutuan orang-orang kudus, tetapi juga tempat latihan untuk orang-orang berdosa supaya mereka belajar jatuh bangun agar menjadi semakin kudus. Untuk itu sebaiknya mereka dibina oleh gereja melalui suatu system penyesalan yang teratur.[52]
Mulai pada masa Kaisar Konstantinus Agung (313), dimana agama Kristen dijadikan agama sah dan pada masa Kaisar Theodosius Agung (380) menjadikan agama Kristen adalah agama negara, kaum Donatisme mengecam gereja yang kurang memperhatikan kekudusan hidup dan kesungguhan iman. Banyak orang menjadi Kristen bukan karena iman melainkan karena pertimbangan politik, sosial dan ekonomi. Menjadi Kristen adalah jalan kehormatan dan kesejahteraan. Menurut kaum Donatis, gereja tidak lagi menjaga kekudusan hidup para pejabat dan anggota gereja sebagai syarat menjamin kebenaran gereja. Hanya imam yang hidup kudus dan tidak pernah goyah sedikitpun yang layak melayankan sakramen-sakramen yang sah. Donatis mempunyai dasar yaitu Efesus 5:27, bahwa gereja hanya dapat dikatakan suci kalau kesuciannya nyata dalam kehidupan pejabat gereja dan anggotanya. Uskup Mileve, yakni Optaus (365) menjawab kritik Donatis, sakramen-sakramen tergantung pada Allah bukan tangan-tangan pejabat gereja. Dan kesucian gereja tidak tergantung pada kesucian jemaat melainkan dari Allah yang mengaruniakan karunia-karunia kudus kepada gereja.
Uskup Hippo Regius yakni Augustinus (395) menyatakan bahwa gereja sebagai tubuh Kristus tidak terbagi dan satu. Gereja terdiri dari orang-orang yang baik dan berdosa, dan mustahil memisahkannya didalam gereja. Augustinus mengakui bahwa hanya orang-orang baik merupakan anggota tubuh Kristus, gereja dalam arti benar namun orang percaya tidak boleh merampas hak Allah, yang menghakimi orang diakhir zaman. Memang perlu displin,  tetapi displin itu bukan berarti “pedang musuh yang melukai, melainkan pisau tabib yang mau menyembuhkan tubuh”. Menurutnya juga bahwa kekudusan gereja tidak boleh dicari dalam tabiat atau kelakuan kaum pejabat atau anggota-anggotanya. Gereja dinamai kudus, sebab persekutuannya dibentuk oleh orang yang dikaruniai Tuhan dengan hadiah-hadiah yang kudus, yaitu firman-Nya dan sakramen. Gereja hanya dapat mengenapi panggilannya terhadap seluruh dunia, jikalau ia hendak mencari orang yang lemah dan sesat, supaya mereka sekalian boleh mendengar pekabarannya dan bertobat.[53]
Pada abad pertengahan (590-1517), perhatian teologis bahwa gereja sebagai persekutuan orang percaya dikesampingkan. Paus sebagai pimpinan tertinggi gereja pada masa itu mempunyai kekuasaan baik kehidupan kerohanian dan politik. Dibawah Boniface VIII (1294-1303) kepausan mengalami kemerosotan kerohanian. Dalam kepemimpinannya Boniface memaksakan teori: hanya Pauslah satu-satunya yang disebut paling kudus, penguasa ilahi dan kaisar tertinggi dan raja diatas segala raja-raja. Bahkan teologi yang dikembangkan Paus bukan hanya wakil Petrus tetapi Wakil Kristus untuk menguduskan jemaatnya. Patokan kekudusan jemaat dan pejabat gereja sangat ditentukan oleh kesetiaan dan ketaatan kepada Paus.
Selanjutnya pada masa reformasi, Luther melihat bahwa fungsi gereja tidak lagi lembaga yang mengantar keselamatan bagi anggota-anggotanya, melainkan persekutuan orang-orang yang dikumpulkan Kristus, yang saling diikat oleh ikatan Roh Kudus, yang berdasar pada Kristus dan yang hidup dari Firman Allah. Yang menentukan kesucian gereja bukan pejabat gereja atau orang-orang yang menjadi anggota-anggotanya melainkan firman dan iman.

2.6. Kekudusan Menurut Gereja Katolik[54]
Kudus atau suci menyangkut seluruh bidang sacral atau keagamaan. Yang suci/ kudus bukan hanya tempat, waktu, barang yang dikhususkan bagi Tuhan, atau orang. Malahan yang sebenarnya harus dikatakan bahwa “yang kudus” adalah Tuhan sendiri (lih. Mis. 2 Raj. 19:22; Yes. 1:4; 5:19; 10:17; Yeh. 38:23. Dst.). Semua yang lain, barang maupun orang, disebut “kudus” karena termasuk lingkup kehidupan Tuhan (lih. Mis. Kel. 19:23; 2 Taw. 3:8, Yeh. 44:19).
“Kudus” bukan pertama-tama ketegori moral yang menyangkut kelakuan manusia, melainkan kategori teologal (ilahi), yang menentukan hubungan dengan Allah. Ini tidak berarti bahwa kelakuan moral tidak penting. Apa yang dikhususkan bagi Tuhan, harus “sempurna” (kata Ibrani tamim sebetulnya berarti “utuh”; lih. Kel. 12:5; Im. 1:3; 3:5; Rm. 16:19.22; 12:1; dst.), dan kesempurnaan manusia tentu terdapat dalam taraf moral kehidupannya. Maka tidak mengherankan Tuhan bersabda, “Hendaklah kamu kudus sebab kuduslah Aku, Yahwe, Allahmu” (Im. 19:2; 11:44.45; 20:7.26: 21:8). Yesus berkata, “Hendaklah kamu sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya” (Mat. 5:48). Ini tentu merupakan tuntutan yang mengatasi kemampuan manusia.
Perjanjian Baru melihat proses pengudusan manusia sebagai “pengudusan oleh Roh” (1 Ptr. 1:2; lih. 2 Tes. 2:13), “dikuduskan karena terpanggil” (Rm. 1:7).  Secara simbolis dikatakan: “kamu telah memperoleh urapan dari yang kudus” (1 Yoh. 2:20), yakni dari Roh Allah sendiri (bdk. Kis. 10:38). Dari pihak manusia kekudusan hanya berarti tanggapan atas karya Allah itu, terutama dengan sikap iman dan pengharapan (lih. 1 Tim. 2:15). Sikap itu dinyatakan dalam segala perbuatan dan kegiatan kehidupan yang serba biasa. Kekudusan bukan soal bentuk kehidupan, melainkan sikap yang dinyatakan dalam hidup sehari-hari.

2.7. Kekudusan Menurut Para Tokoh
2.7.1. Luther
Mengenai hidup kudus atau kekudusan, Luther menyatakan bahwa kekudusan (pengudusan) yang diberikan kepada manusia merupakan tujuan utama penebusan dalam Yesus Kristus. Kekudusan orang Kristen bukan hanya dinyatakan di dalam Yesus, tetapi juga memiliki kekudusan di dalam dirinya sendiri, yang dikerjakan Roh Kudus. Itu sebabnya perbuatan baik kita tidak diperhitungkan dalam pengudusan. Tuntutan kekudusan bukan untuk “menyebabkan”, tetapi sebagai respon atas pengudusan kita. Pekerjaan baik tidak membuat orang menjadi baik, tetapi orang baik menghasilkan pekerjaan baik. Orang percaya melakukan pekerjaan baik tanpa kecemasan, sebab itu lahir dari batiniahnya. Jadi motif yang lebih penting dibandingkan dengan konsekuensi perbuatan.[55]

2.7.2. Calvin
Menurut Calvin, bahwa perbuatan manusia yang paling baik sekalipun sudah dirusak oleh dosa (Yoh. 15:3). Pengudusan kita harus terus menerus diperbaharui dengan tuntunan Roh Kudus. Sebab walaupun kita sudah dikuduskan dan menjadi ciptaan baru (Gal. 6:15), tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kita juga orang berdosa. Tabiat kedagingan itu masih sering mempengaruhi hidup orang percaya (bnd. 1 Kor. 13, Flp. 3:12), yang membuat manusia itu masih harus menuju kesempurnaan.[56]

2.8. Tinjauan Dogmatis Terhadap Kekudusan dan Relevansinya Terhadap Pemahaman Jemaat di Masa Kini
Dalam Perjanjian Lama dan Baru sifat Allah yang paling khas adalah kekudusan-Nya. Walaupun bangsa-bangsa dan tempat-tempat disebut kudus, tetapi hanyalah dalam artian dikhususkan bagi Allah, karena hanya Allah yang kudus (bnd. Yes. 6). Kekudusan itu berarti bahwa Dia betul-betul murni dalam sikap dan pikiran.[57] Orang Israel sebagai umat Allah yang harus menjadi bangsa yang kudus selaku umat Allah dan hal ini harus nyata dalam hidup sehari-hari, dengan menjauhkan diri dari segala kenajisan. Tahir berarti bersih dari segala dosa. Ketahiran barulah berarti suci jika hati menggambarkan dan disertai oleh kesucian batin, disertai oleh hati yang bersih dari dosa. Itulah sebabnya Allah memberikan berbagai syarat-syarat yang harus diikuti oleh bangsa Israel, jika mereka hendak hidup dalam persekutuan dengan Allah. Mereka juga dituntut untuk hidup dalam ketahiran pada kehidupan sehari-hari, misalnya syarat ketahiran jika terkena kepada mayat (bnd. Bil. 19), dalam persoalan makanan juga mereka diatur (Bnd. Im. 11 dan Ul. 14:1-21). Alasan syarat-syarat ini diberikan dalam Im. 20:25, 26. Israel adalah umat Allah yang diasingkan dari bangsa-bangsa lain; pengasingan ini harus nyata dari hal, bahwa bangsa Israel dalam segala hal melakukan kemauan Allah, taat dan menurut kepada Allah.[58] Selanjuntnya, Israel yang suatu bangsa yang dikhususkan bagi Allah diantara semua bangsa di bumi, gaya hidupnya dan sebenarnya karakternya harus menyatakan kepada semua bangsa makna dari identitas dan misi Allah.
Sebagai orang yang dikuduskan oleh Allah, secara tegas Allah mengatakan supaya setiap orang harus menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sudah dikuduskan. Harus dinyatakan dalam setiap saat dengan menaati perintah yang diberikan-Nya. Jika setiap saat umat-Nya menaati perkataan-Nya mereka akan aktif menguduskan kehadiran Allah ditengah-tengah mereka. Allah akan menguduskan mereka dan umat itu diberikan kepada Allah yang kudus. Sebagai umat yang menaati perintah Tuhan, Israel harus bersikap seperti yang Allah lakukan, supaya layak dipanggil sebagai umat yang kudus, demikianlah juga kita.[59]
Bila kita lihat pemilihan yang dilakukan Allah kepada imam, terlihat bahwa sebagai seorang hamba  yang khusus, imam harus ditetapkan dan dikuduskan (Im. 8), diajar tentang cara perantaraan yang benar untuk membawa kurban (Im. 9:1-10:7); untuk memahami jabatan dan pelayanannya yang istimewa menuntut norma-norma untuk berkaitan dengan integritas dan perilaku (10:8-15). Dengan perkataan lain, imam adalah orang yang kudus yang melayani Allah yang kudus untuk kepentingan umat yang kudus.
Kekudusan Allah menuntut supaya orang-orang Kristen mencerminkan sifat Allah dalam gaya hidup. Dalam 1 Ptr. 1:14-16 “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu”. Allah menunutu  kekudusan menjadi tujuan para beriman. Paulus berkata, “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan” (II Tim. 2:19) dan menurut Ibrani 12:10 Allah amat mendamkan kekudusan kita: Dia “menghajar” kita “supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya”.[60]
Relevansi terhadap pemahaman jemaat di masa kini, bisa kita mulai melalui Imamat 20:29, kita bisa melihat bahwa arti dan makna kekudusan adalah pemisahan dari hal-hal duniawi yang bertentangan dengan kehendak Allah dan juga pengkhususan untuk menjadi milik Allah. Kita juga harus melihat bahwa kekudusan merupakan milik Allah, merupakan sifat Allah. Sehingga hanya Allah yang bisa menguduskan manusia. Pengudusan Allah merupakan inisiatif Allah sendiri. Allah mengkomunikasikan kekudusan-Nya kepada umat manusia yang bertujuan untuk menyelamatkan umat manusia. Allah yang menguduskan manusia juga menuntut kekudusan umat-Nya melalui respon manusia sendiri untuk mengambil bagian dalam kekudusan itu, seperti yang diungkapkan Luther bahwa Tuntutan kekudusan bukan untuk “menyebabkan”, tetapi sebagai respon atas pengudusan. Manusia dipanggil sekaligus bertanggung-jawab untuk hidup kudus, hidup menurut Firman, menjadikan Firman itu hidup dalam kehidupan sehari-hari dengan ketaatan (kesetiaan) secara menyeluruh. Tanggung jawab itu haruslah secara menyeluruh atas keberadaan manusia itu sendiri, baik secara rohani maupun jasmani, baik secara iman dan juga perbuatan. Kekudusan manusia harus nyata dalam prinsip-prinsip hidup (tata hidup). Karakter dan perilaku manusia harus mencerminkan karakter dan perilaku Allah (Im. 19-20). Allah adalah standar kekudusan. Sehingga hidup kudus tidak lagi dipandang sebagai hal yang normative, namun merukan bagian dari kehidupan sebagai respo kita terhadap Allah yang kudus yang menguduskan umat-Nya.
Manusia yang sudah dikuduskan oleh Allah bukan harus menjauhi orang-orang yang tidak hidup dalam kekudusan (manusia berdosa). Bila itu terjadi, kita akan seperti golongan Montanisme dan Donatisme yang menghendaki agar orang-orang berdosa disingkirkan. Seperti yang diungkapkan Optatus bahwa kekudusan merupakan karunia dari Allah dan kita harus mengingat ungkapan Augustinus yang menyatakan bahwa kita bukan menjadi “pedang musuh yang melukai, melainkan pisau tabib yang menyembuhkan tubuh”. Manusia tidak bisa mengungkung kekudusan tersebut. Kekudusan bukan kesombongan kerohanian, sehingga seperti Boniface VIII yang menyatakan bahwa dialah yang paling kudus. Allah yang kudus, menguduskan umat-Nya bukan karena umat-Nya tidak berdosa. Sesungguhya semua manusia adalah berdosa, namun melalui pengudusan ini, Allah menujukkan kemuliaan dan kasih-Nya kepada manusia. Sehingga, umat yang telah dikuduskan oleh Allah, tidak menganggap dirinya yang tidak berdosa, dan harus menjauhi orang yang berdosa.
Manusia yang mengambil bagian dalam kekudusan juga harus menyadari bahwa melalui kekudusan ini, Allah mengutus umat-Nya untuk menjadi umat-Nya yang kudus di dunia yang penuh kecemaran. Melalui pengudusan, Allah juga mengutus kepada manusia yang berdosa lainnya.[61] Ada misi yang diberikan kepada manusia yang merespon kekudusan dan menjadi tanggung-jawab manusia untuk mengemban misi tersebut. Kekudusan kita bertujuan untuk mengembangkan, menjaga dan menampilkan kekudusan tersebut. Kekudusan juga berbicara pengutusan, dimana orang-orang yang sudah dikuduskan memiliki misi pengutusan kepada semua umat manusia untuk menyatakan kemuliaan Allah ditengah-tengah dunia.

 III.            III. Kesimpulan
Melalui pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa arti kekudusan adalah “dipisahkan” dan “dikhususkan”. Kekudusan merupakan sifat dan milik Allah, sehingga hanya Allah yang disebut kudus dan hanya Allah yang dapat menguduskan. Allah mengkomunikasikan kekudusannya kepada umat manusia dan menuntut kekudusan umat. Manusia memiliki tanggung jawab untuk menyatakan kekudusannya dalam kehidupannya secara seutuhnya. Kekudusan manusia haruslah secara keseluruhan (holistik), baik rohani maupun jasmani, baik iman maupun perbuatan. Kekudusan manusia harus nyata dalam prinsip-prinsip hidup (tata hidup). Karakter dan perilaku manusia harus mencerminkan karakter dan perilaku Allah (Im. 19-20). Melalui pengudusan, Allah juga mengutus kepada manusia yang berdosa lainnya. Terdapat misi yang harus menjadi tanggung jawab manusia yang dikuduskan dan yang merespon kekudusan tersebut.

 IV.            IV. Daftar Pustaka
Baker, David L., Mari Mengenal Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM, 2002
Baker, F.L., Sejarah Kerajaan Allah I, Jakarta: BPK-GM, 2007
Berkhof, H., Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2007
Brownlee, M., Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya, Jakarta: BPK-GM, 1991
Darmawijaya, Selak Beluk Kitab Suci, Yogyakarta: Kanisius, 2009
Davidson, Robert, Alkitab Berbicara, Jakarta: BPK-GM, 2001
Defour, Xaper Leon, Ensiklopedia Perjanjian Baru Jilid II, Yogyakarta: Kanisius
Dyrness, William, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2004
Evans, Tony, Teologi Allah (Allah Kita Maha Agung), Malang: Gandum Mas, 1999
Finlayson, R.A., Kudus dalam Ensiklopedia Alkitab Jilid I, J.D. Douglas, Jakarta: YKBK, 1992
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru-I, Jakarta: BPK-GM, 1995
Hadiwijono, Harun, Iman Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2012
Kittle, Gerhard, dkk (ed.), Theological Dictionary Old The Testament Vol.1, Michigan: Eerdmans Publishing, 1993
Komisi Kateketik KWI, Iman Katolik, Yogyakarta: Kanisius, 1996
Lassor, W.S. & F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK-GM, 2005
Lucker, Erwin L., Lutheran Cyclopedia, Missoria: Concordia Publishing House, 1954
Ludji, Barnabas, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama 1, Bandung: Bina Media Informasi, 2009
Mackintosh, C. H., Notes On The Book Of Leviticus, New York: : Loizeaux Brother, 1959
Marsunu, Seto, Allah Leluhur Kami (Tema-Tema Teologis Taurat), Yogyakarta: Kanisius, 2008
Milne, Bruce, Mengenali Kebenaran, Jakarta: BPK-GM, 2009
Moloney, F.J., Menjadi Murid dan Nabi, Model Hidup Religius Menurut Kitab Suci, Yogyakarta: Kanisius, 1998
Naude, Jackie A., dalam Dictionary Of Old Testament Theology & Ekesegesis, Paternoster Press, 1996
O’Collins, Gerald, SJ & Edward G. Farnugia. SJ, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 1996
Roberts, Roger, Hidup Suci (Panggilan Bagi Setiap Orang Percaya), Bandung: Yayasan Baptis Indonesia, 2000
Selvaraj, Sadhu Sundar, Menyempurnakan  Kekudusan, Jakarta: Nafiri Gabriel, 1999
Susanto, Hasan, Konkordansi Perjanjian Baru Jilid II, Jakarta: LAI, 2003
Thiessen, Henry C., Teologi Sistematika, Malang: Gandum Mas, 2000
Van Gemeran, Willem A. (ed), New International Dictionary Of The Old Testament Theologi & Exegetis Vol. 3, America: Paternoster Press, 2002
Vriezen, Th. C., Agama Israel Kuno, Jakarta: BPK-GM, 2003
Weiser, Artur, Old Testament Library, Street London: SCM Press LTD Blommsbury, 1962
Westermann, Ernest Jenni Claus, Theological Lexicon Of The Old Testament Vol. 3, America: Hendrickson Publisher, 1997
Wolf, Herbert, Pengenalan Pentateukh, Malang: Gandum Mas, 2004
Wright, Christoper, Hidup sebagai Umat Allah, Jakarta: BPK-GM, 2007
Zuck, Roy B. (Ed.), A Biblical Theology of The Old Testament, Malang: Gandum Mas, 2005

Chrisnov M. Tarigan’s
Mahasiswa STT Abdi  Sabda Medan 

[1] Jackie A. Naude, dalam Dictionary Of Old Testament Theology & Ekesegesis, Paternoster Press, 1996, p.877
[2] R.A. Finlayson, Kudus dalam Ensiklopedia Alkitab Jilid I, J.D. Douglas, Jakarta: YKBK, 1992, hlm. 617
[3] David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM, 2002, hlm. 37
[4] W.S. Lassor & F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK-GM, 2005, hlm. 215
[5] Gerald O’Collins, SJ & Edward G. Farnugia. SJ, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 1996, hlm. 174
[6] Willem A. Van Gemeran (ed), New International Dictionary Of The Old Testament Theologi & Exegetis Vol. 3, America: Paternoster Press, 2002, p. 877
[7] Ibid, hlm. 878
[8] Gerhard Kittle, dkk (ed.), Theological Dictionary Old The Testament Vol.1, Michigan: Eerdmans Publishing, 1993, hlm. 89
[9] Willem A. Van Gemeran (ed), Op.cit., hlm. 883
[10] Ernest Jenni Claus Westermann, Theological Lexicon Of The Old Testament Vol. 3, America: Hendrickson Publisher, 1997, p.1106
[11] Willem A. Van Gemeran (ed), Op.cit., hlm. 879
[12] Christoper Wright, Hidup sebagai Umat Allah, Jakarta: BPK-GM, 2007, hlm. 112
[13] Willem A. Van Gemeran (ed), Op.cit., hlm. 884
[14] Ibid, p. 884                                                                                               
[15] Ibid, p. 886
[16] Xaper Leon Defour, Ensiklopedia Perjanjian Baru Jilid II, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 511
[17] Hasan Susanto, Konkordansi Perjanjian Baru Jilid II, Jakarta: LAI, 2003, hlm. 11
[18] Ibid, hlm. 12
[19]R.A. Finlayson, Kudus dalam Ensiklopedia Alkitab Jilid I, Op.Cit., hlm. 617
[20] Hasan Susanto,  Op.Cit., hlm. 12
[21] Ibid, hlm. 13
[22] Ibid, hlm. 12
[23] R.A. Finlayson, Kudus dalam Ensiklopedia Alkitab Jilid I, Op.cit., hlm. 617
[24] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru-I, Jakarta: BPK-GM, 1995, hlm. 77
[25] Bandingkan menurut Harun Hadiwijono, yang mengatakan bahwa menurut Alkitab, kelainan Tuhan Allah, jika dibandingkan dengan manusia dan dewa, bukan terletak dalam bahwa Tuhan Allah adalah lebih halus, lebih gaib, lebih murni dan lain sebagainya, melainkan bahwa Tuhan Allah didalam Firman dan karya-Nya tampak Dia benar-benar tidak dapat bersekutu  dengan dosa, bahwa Ia benar-benar dipisahkan dari dosa, bahwa Ia benar-benar kudus. Kekudusan Allah bukan suatu teori, bukan hasil pemikiran akan manusia. Harun Hadiwijono, Iman Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2012, hlm. 91
[26] Bruce Milne, Mengenali Kebenaran, Jakarta: BPK-GM, 2009, hlm. 97-98
[27] William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2004, hlm. 36
[28] Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh, Malang: Gandum Mas, 2004, hlm. 26
[29] Artur Weiser, Old Testament Library, Street London: SCM Press LTD Blommsbury, 1962, p. 640
[30] Robert Davidson, Alkitab Berbicara, Jakarta: BPK-GM, 2001, hlm. 42
[31] Willem A. Van Gemeren (Ed), Op. Cit, p. 884
[32] R.A. Finlayson, Kudus dalam Ensiklopedia Alkitab Jilid I, Op.cit., hlm. 617
[33] Harun Hadiwijono, Op. Cit., hlm. 91
[34] Donald Guthrie, Op. Cit., hlm. 77
[35] Tony Evans, Teologi Allah (Allah Kita Maha Agung), Malang: Gandum Mas, 1999, hlm. 97
[36] Darmawijaya, Selak Beluk Kitab Suci, Yogyakarta: Kanisius, 2009, hlm. 94
[37] Bruce Milne, Op. Cit., hlm. 98
[38] Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama 1, Bandung: Bina Media Informasi, 2009, hlm. 93
[39] Seto Marsunu, Allah Leluhur Kami (Tema-Tema Teologis Taurat), Yogyakarta: Kanisius, 2008 ,Hal. 74
[40] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, Malang: Gandum Mas, 2000, hlm. 442-443
[41] Harun Hadiwijono, Op.cit., hlm. 91
[42] David L. Baker, Op. Cit., hlm. 38
[43] W.S. Lassor & F.W. Bush, Op. Cit., hlm. 223
[44] Seto Marsunu, Op. Cit., hlm. 72-73
[45] Roy B. Zuck (Ed.), A Biblical Theology of The Old Testament, Malang: Gandum Mas, 2005, hlm. 113-114
[46] Ibid, hlm. 114-115
[47] F.J. Moloney, Menjadi Murid dan Nabi, Model Hidup Religius Menurut Kitab Suci, Yogyakarta: Kanisius, 1998, hlm. 11-12
[48] M. Brownlee, Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya, Jakarta: BPK-GM, 1991, hlm. 187
[49] Roger Roberts, Hidup Suci (Panggilan Bagi Setiap Orang Percaya), Bandung: Yayasan Baptis Indonesia, 2000, hlm. 15-26
[50] Sadhu Sundar Selvaraj, Menyempurnakan  Kekudusan, Jakarta: Nafiri Gabriel, 1999, hlm. 89
[51] Th. C. Vriezen, Agama Israel Kuno, Jakarta: BPK-GM, 2003, hlm. 20
[52] H. Berkhof, Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2007, hlm. 33
[53] Ibid, hlm. 65-66
[54] Komisi Kateketik KWI, Iman Katolik, Yogyakarta: Kanisius, 1996, hlm. 348-349
[55] Erwin L. Lucker, Lutheran Cyclopedia, Missoria: Concordia Publishing House, 1954, p. 942
[56] Ibid, hlm. 942
[57] Donald Guthrie, Op. Cit., hlm. 77
[58] F.L. Baker, Sejarah Kerajaan Allah I, Jakarta: BPK-GM, 2007, hlm. 370
[59] C. H. Mackintosh, Notes On The Book Of Leviticus, New York: : Loizeaux Brother, 1959, p. 307
[60] Tony Evans, op. Cit.,  hlm. 101
[61] Donald Guthrie, Op. Cit., hlm 77

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bijaksanalah memberikan pendapat, setiap pendapat harus dibangun atas dasar yang jelas